Polsek Dijaga Ketat

Khawatir Aksi Susulan Massa setelah 6 Pelaku Ditahan

Aksi perusakan Mapolsek Talango oleh ratusan massa mendapat perhatian serius Kapolres AKBP Darmawan. Kapolres memerintahkan jajarannya untuk siaga. Itu setelah polisi menangkap enam orang yang diduga merusak mapolsek.

Seperti diberitakan, ratusan warga Desa Cabbiya, Kecamatan Talango, mendatangi Mapolsek Talango (21/6). Warga melempari mapolsek dengan batu. Akibatnya, sejumlah fasilitas mapolsek rusak. Akibat amuk massa itu Kapolsek AKP Edy Heryanto luka.

Massa datang ke mapolsek untuk membebaskan warga Cabbiya, Anam, yang ditahan. Anam ditahan lantaran diduga terkait kasus pengrusakan rumah DH, warga Dusun Jeruk Porot, Desa Cabbiya, beberapa waktu lalu. Rumah Dahri dirusak warga karena ditengarai memiliki ilmu santet.

Pascaperusakan Mapolsek Talango, Kapolres memerintahkan jajarannya untuk melakukan tiga hal. Pertama, mengintruksi jajarannya mengamankan mapolsek. Kedua, meminta siapa saja yang pantas diduga sebagai pelaku perusakan diperiksa. Ketiga, memerintahkan jajarannya menciptakan situasi kondusif di sekitar TKP (tempat kejadian perkara).

Tiga atensi pimpinan polres tersebut ditindalanjuti jajarannya. Pascaperusakan, enam pelaku yang diduga merusak mepolsek ditangkap. Mereka adalah HD, MN, MH, MI, SH, dan MS. Semuanya, warga Desa Cabbiya, Kecamatan Talango. Kuat dugaan, perusakan mapolsek diotaki enam pelaku yang saat ini meringkuk di tahanan polres itu.

Kapolres menegaskan, semua warga yang diduga merusak mapolsek diproses sesuai hukum yang berlaku. Menurut dia, warga yang diamankan petugas saat ini diperiksa di Mapolres Sumemep Jl Urip Sumoharjo. "Kasus ini terus dikembangkan," kata Darmawan.

Pihaknya menengarai, ada orang lain yang pantas diduga sebagai pelaku di luar enam orang yang telah diamankan itu. Hanya, Kapolres belum bersedia menyebut pihak lain dimaksud. "Nanti sajalah. Tunggu perkembangan selanjutnya," elaknya saat dikonfirmasi wartawan kemarin.

Para pelaku perusakan disangka melanggar pasal 170 KUHP (secara bersama-sama melakukan kekerasan ke orang dan benda). Mereka diancam hukuman lima tahun penjara. (abe/mat)

Sumber: Jawa Pos, 23/06/08

Massa Rusak Mapolsek

Enam Orang Diamankan

Ratusan warga Desa Cabbiya, Kecamatan Talango, Sumenep, kemarin sore merusak mapolsek setempat. Massa melempari mapolsek dengan batu. Akibatnya, sejumlah fasilitas kantor rusak.

Informasi yang diterima koran ini dari warga setempat menyebutkan, massa tiba di mapolsek sekitar pukul 17.00. Mereka ke mapolsek karena salah satu warga, Anam, ditangkap polisi.

Anam ditahan di Mapolsek Talamngo karena terkait kasus perusakan rumah Dahri, warga Kampung Jeruk Porot, Desa Cabbiya, beberapa waktu lalu. Kabarnya, rumah DH dirusak karena diduga memiliki ilmu santet.

Rupanya, keluarga Anam dan sebagian warga Cabbiya tidak terima dengan tindakan polisi yang mengamankan Anam. Sebab, DH yang diduga memiliki ilmu santet dibiarkan bebas berkeliaran.

Kemudian, massa mendatangi mapolsek. Tampaknya, negosiasi antara Kapolsek AKP Edi Heryanto dengan massa buntu. Sehingga, massa mengamuk dan melempari mapolsek dengan batu.

Akibat amukan massa itu, sejumlah fasilitas di mapolsek rusak. Antara lain, dua kaca besar di ruang penjagaan dan ruangan Kapolsek pecah, kaca mobil patroli yang diparkir di depan mapolsek juga pecah. Bahkan, pecahan kaca melukai kaki Kapolsek.

Untungnya, bantuan dari Polres Sumenep dan Polsek Kalianget segera datang. Massa pun berhasil dibubarkan. Beberapa pelaku perusakan mapolsek diamankan dan dibawa ke mapolres. Informasi yang didapat koran ini menyebutkan, ada enam warga diamankan.

Sekitar pukul 18.45 Kapolres Sumenep AKBP Darmawan tiba di lokasi kejadian. Dia langsung memeriksa dan melihat olah tempat kejadian perkara (TKP). Informasi yang diserap koran ini dari polisi, aksi massa itu buntut dari pengrusakan rumah DH karena diisukan sebagai dukun santet.

Kapolsek Talango AKP Edi Heryanto yang dikonfirmasi koran ini tadi malam mengatakan, sebenarnya masalah perusakan rumah DH sudah tidak ada masalah. Bahkan, pihaknya sempat mendatangi warga dan aparat Desa Cabbiya. "Kita melihat tidak ada masalah," katanya.

Sehingga, dia heran ketika kemarin sore, ratusan warga mengepung dan melempari mapolsek. Bahkan, saking banyaknya dan bringasnya massa, Kapolsek sempat meminta anggotanya mundur dan salah satu anggotanya melakukan tembakan peringatan.

Tapi, ternyata massa tetap saja melempar mapolsek. Massa bisa dibubarkan setelah bantuan personel dari polres tiba. "Kita sudah berupaya melakukan pendekatan secara persuasif. Tapi rupanya massa tetap seperti itu," katanya. (zr/mat)

Sumber: Jawa Pos, Minggu, 22 Juni 2008

Selamatkan Madura

Dinilai Perlu Syari'at Islam Pasca Suramadu

Ada yang menarik saat pelaksanaan Rakorcab PBB di kantor Sekretariat PBB Sampang kemarin (15/6). Ketua DPC PBB H Moh. Hifni SH beserta pengurus PAC PBB yang diwakili ketua dan sekretaris dari 14 kecamatan, terlibat sosialisasi dan persiapan penjaringan calon legislatif tahapan pemilu Agustus mendatang.

Rakorcab yang juga dihadiri anggota DPRD Jatim asal PBB dari Madura KH Abdus Salamsyah tersebut berlangsung sejak pukul 09.00. Selain membicarakan terkait sosialisasi pencalonan anggota legislatif, juga membahas tentang pentingnya penerapan syariat Islam demi selamatkan Madura pasca Suramadu.

KH Abdus Salamsyah yang akrab dengan panggilan Asas ini mengungkapkan kekhawatirannya pasca pembangunan Suramadu yang rencana siap pakai 2009 mendatang. Menurut Asas, siap atau tidak masyarakat Madura harus menerima Suramadu sebagai awal sebuah kemajuan. "Kemajuan adalah sesuatu yang berkembang, dan perkembangan Madura akan berawal dari Suramadu," ungkap Asas yang tahun ini dipercaya PBB untuk menjadi bakal calon anggota DPR RI.

Karena itu, Asas berharap agar nantinya pembangunan Suramadu sebagai pembangunan nasional ini mampu menjadi pemicu bagi masyarakat Madura. Utamanya dalam menumbuhkembangkan SDM yang ada. Salah satunya adalah perkembangan di bidang IPTEK (ilmu pengetahuan dan teknologi).

Selain itu, dengan tidak melupakan Madura sebagai basis agama Islam, Asas berharap agar IMTEK juga didukung dengan peningkatan imtaq (iman dan taqwa). Yang nantinya, lembaga pendidikan Islam seperti pesantren mempunyai peran penting dalam hal tersebut. "Dukungan dari seluruh elemen sangat berpengaruh terhadap peningkatan 2 hal tersebut (IMTEK dan IMTAQ, Red.)," papar Asas.

Sesuai dengan visi dan misi PBB, Asas sangat yakin bahwa dengan terus konsisten terhadap pemberlakuan syariat Islam, maka pembangunan Suramadu tidak akan berdampak negatif terhadap masyarakat Madura. "Asalkan kita tetap konsisten pada syariat Islam, saya yakin akan mudah menyelamatkan Madura dari dampak negatif atas pembangunan Suramadu," jelas Asas yang juga merupakan salah satu pencetus Pamekasan Gerbang Salam saat kepemimpinan Bupati Pamekasan Dwiatmo tersebut.

Senada dengan Asas, Drs Moh. Ramli yang diusung PBB menjadi bakal calon DPRD Provinsi Jatim mengungkapkan, kelak pasca pembangunan Suramadu, masyarakat Madura tetap perlu mempertahankan budaya yang ada. Sekalipun serbuan budaya luar pasti deras masuk ke Madura. "Kalau di Aceh disebut serambi Makkah, maka Madura bisa mencerminkan diri dengan sebutan serambi Madinah," ungkap Ramli.

Dengan itu, Ramli berharap akan ada semangat beragama yang kuat di masyarakat Madura. Karena, agama merupakan salah satu upaya untuk menangkis segala peubahan-perubahan yang akan diusung pasca pembangunan mega proyek itu tuntas. "Kalau Madura disebut serambi Madinah, maka masyarakat Madura akan memiliki kebanggan sendiri. Sebab di Madura ini banyak basis pesantren dan ulama yang tersebar," papar Ramli. (c8/ed/adv)

Sumber: Jawa Pos, Senin, 16 Juni 2008

Pamekasan Dilanda Kekeringan

Sebanyak 15 desa di delapan kecamatan di wilayah Kabupaten Pamekasan, Madura , Jawa Timur saat ini mulai dilanda kekeringan dan kekurangan air bersih.

Kelima belas desa tersebut masing-masing Desa Bukek, Branta Tinggi dan Desa Tlanakan Kecamatan Tlanakan, serta Desa Tlesah, Baddurih dan Desa Tanjung Kecamatan Pademawu.

Selanjutnya Desa Bujur Timur, Bujur Tengah dan Desa Bujur Barat Kecamatan Batumarmar, yang terletak di wilayah utara Kabupaten Pamekasan.

Di wilayah bagian timur Pamekasan desa yang dilanda kekeringan meliputi Desa Larangan Luar, Larangan Dalam kecamatan Larangan, serta Desa Lembung kecamatan Galis. Juga Desa Gagah dan Desa Kertagena Laok Kecamatan Kadur.

Kekeringan juga mulai melanda Desa Rek-Kerek dan Desa Palengaan Kecamatan Palengaan, serta dua desa di Kecamatan Proppo, masing-masing Desa Campor dan Desa Panaguan.

Menurut warga Dusun Kotasek Desa Tanjung Kecamatan Pademawu Zaini(28), Rabu , kekeringan yang melanda desanya mengakibatkan warga terpaksa harus menghemat penggunaan air.
"Kalau mencuci pakaian kami terpaksa mencuci ke laut. Sumber air yang ada disini hanya cukup untuk minum dan memasak," katanya.

Kasi Teknis PDAM Pamekasan Nurjaman menyatakan, desa-desa tersebut memang termasuk desa yang selama ini rawan kekeringan dan kekurangan air bersih.
Meski demikian, PDAM belum melakukan pendistribusian air karena belum menerima permohonan bantuan air bersih dari aparat desa setempat.

"Aturannya kan, proposal dulu ke Pemkab lalu Pemkab yang meminta ke pihak PDAM daerah mana saja yang perlu mendapat distribusi air," kata Nurjaman. (ant)

Sumber: Surya, Wednesday, 11 June 2008

Sinden Tewas Digorok

Warga Desa karang Buddi, Kecamatan Gapura, kemarin malam, dikejutkan dengan pembunuhan sadis. Seorang sinden, Jamak, 37, warga Desa Legung Timur, Kecamatan Batang-Batang, tewas digorok ketika tampil dalam sebuah acara di desa tersebut.

Kondisi korban benar-benar mengenaskan. Bagian lehernya nyaris putus, akibat gorokan senjata tajam. Peristiwa itu terjadi saat pria yang berprofesi sebagai sinden tengah pentas di rumah Sinabi, 42, Desa Karang Buddi, Kecamatan Gapura, kemarin malam sekitar pukul 21.30.

Informasi koran ini dari polisi setelah melakukan olah TKP, korban digorok bagian lehernya dengan senjata tajam dari belakang panggung. Ketika itu, korban melantunkan kidungan berbahasa Madura.

Korban tewas bersimbah darah dan tersungkur ke belakang. Akibatnya, tontonan gratis tersebut dihentikan seketika dan ribuan penonton lari ketakutan.

Kasat Reskrim Polres Sumenep, AKP Mualimin mengatakan, pembunuhan yang menimpa salah satu kleningan (musik tradisional) yang sering disebut sinden, diduga karena dendam. Sehingga pelaku nekat membunuh korban dengan cara sadis.

Namun, polisi sudah mengantongi identitas pelaku yang sampai saat ini masih buron. "Identitas pelaku sudah ada, dan saat ini dalam pengejaran petugas," kata Mualimin.

Dari olah TKP dan pemeriksaan sejumlah saksi, kata Mualimin, pembunuhan ini telah direncanakan pelaku dengan motif dendam lama. Kejadian itu, terjadi 30 menit setelah acara musik dimainkan.

Mualimin menjelaskan, untuk mengetahui secara jelas pelaku pembunuhan itu, pihaknya sudah memeriksa empat orang saksi, termasuk pemilik rumah.

Berdasarkan keterangan para saksi itu, pelaku masuk ke belakang panggung dengan menggunakan jaket. Kemudian secepat kilat memegang kepala korban dan langsung digorok. "Jadi, saya minta pelaku pembunuhan itu, agar menyerahkan diri," tegasnya.(zr)

Sumber: Jawa Pos, Selasa, 03 Juni 2008

Sinden Playboy Dihabisi

Pembunuhan sadis menimpa seorang seniman tayub terkenal di Kecamatan Batang-Batang, Kabupaten Sumenep, Madura. Jamak, 37, yang dikenal sebagai sinden tayub, jago parikan serta pemain ludruk di Kecamatan Batang-Batang dicelurit lehernya oleh seorang tak dikenal saat sedang pentas, Minggu (1/6) malam.

Saat itu, Jamak (asal Dusun Guntong, Desa Legung Timur, Kec. Batang-Batang) sedang tampil di pesta pernikahan anak Sinabe, 42, warga Dusun Karang Anyar, Desa Karang Buddhi, Kec. Gapura, Sumenep. Akibat tebasan celurit itu, leher Jamak nyaris putus dan dia tewas seketika di atas panggung.

Informasi yang dihimpun Surya di lokasi kejadian menyebutkan, selain memeriahkan pesta perkawinan anak Sinabe, pentas tayub malam itu digelar karena Sinabe mendapat giliran sebagai tuan rumah arisan kelompok karawitan. Sudah menjadi kebiasaan kelompok tersebut, siapa yang mendapat giliran sebagai tuan rumah arisan, akan menggelar tayub.

Sumber: Surya, 03/06/08