Enam Puluh Persen Lulusan SD

SAMPANG - Sungguh memprihatinkan, dari 1.416 pengurus Komite Sekolah (KS) se Kabupaten Sampang, enam puluh persen pengurus di antaranya diketahui hanya pernah mengenyam dan lulus pendidikan setingkat SD. Praktis, minimnya bekal pendidikan yang dimiliki pengurus KS mempengaruhi optimalitas dan kinerja pengurus KS.

"Empat puluh persen sisanya, ada yang berpendidikan sekolah menengah dan perguruan. Bahkan, ada diantara pengurus KS yang pernah menjadi pengawas, kepala sekolah, dan guru," ungkap Ketua Dewan Pendidikan (DP) Kabupaten Sampang Drs Ali Daud Bay di sela-sela Sosialisasi Peningkatan Kinerja KS di aula Kecamatan Pangarengan, kemarin.

Menurut dia, kepengurusan KS di masing-masing satuan kerja lembaga pendidikan sebenarnya sangat strategis dalam rangka peningkatan mutu dan kualitas pendidikan. "Sebab, informasi seputar pendidikan yang disampaikan pengurus KS bersentuhan langsung dengan sekolah," ujarnya.

Dijelaskan, pengurus KS yang notabene merupakan perwakilan masyarakat seharusnya bisa menguasai beberapa instrumen penunjang guna meningkatkan mutu dan kualitas pendidikan sekolah. "Termasuk, harus peka terhadap kebutuhan dan kekurangan yang melekat pada sekolah," terangnya.

Ketua Dewan Kesenian (DK) Kabupaten Sampang ini juga menambahkan, kalau pengurus KS tidak memahami manageman berbasis sekolah, manageman BOS dan buku, atau penerapan kurikulum berbasis kompetensi (KBK), diyakini akan memperlambat kemajuan dan pengembangan sekolah.

"Yang tidak kalah penting, pengurus KS ini harus memahami dan menguasai betul rencana pendapatan dan anggaran belanja sekolah (RAPBS). Sehingga, mereka bisa mengenali dan menginventarisir beragam kekurangan yang dimiliki sekolah," jelasnya.

Sementara untuk meningkatkan SDM dan pengetahuan para pengurus KS di Kabupaten Sampang, pihaknya dalam waktu dekat akan menggelar lokakarya penguatan dan peningkatan kinerja pengurus KS se Kabupaten Sampang. "Kegiatan ini, merupakan embrio dari kegiatan sosialisasi peningkatan kinerja pengurus KS yang digelar di 14 kecamatan se Kabupaten Sampang," tandasnya.

Sekadar diketahui, jumlah pengurus KS se Kabupaten Sampang sudah mencapai 1.416 lembaga. Sementara jumlah anggota pengurus KS yang terdata, diperkirakan sudah mencapai 12 ribu lebih. Mereka, tersebar di 14 kecamatan dan 186 desa/kelurahan se Kabupaten Sampang. (fiq)

Sumber: Jawa Pos, Sabtu, 13 Jan 2007

Sumenep Kaya Budidaya Laut

SUMENEP-Kabupaten Sumenep dikenal sebagai daerah di Jawa Timur bahkan di Indonesia yang memiliki kekhasan. Yakni, posisi geografisnya yang terdiri dari gugus kepulauan. Ada sekitar 78 pulau berpenhuni di kabupaten paling ujung timur Madura ini. Itu belum termasuk pulau yang tidak berpenghuni sekitar puluhan pulau.

Karena itu, tak heran bila daerah ini memiliki potensi laut berlimpah ruah. Selain potensi perikanan tangkap, wilayah perairan laut Sumenep mempunyai laut mempunyai potensi bagi pengembangan usaha budidaya laut, seperti budidaya rumput laut.

Sekadar diketahui, luas areal budidaya rumput laut di Kabupaten Sumenep seluas 5.870 Ha dengan produksi pada tahun 1999 sebesar 3.224,70 ton dengan jumlah petani 1.697 orang dan jumlah rakit 6.721 unit. Potensinya berada di lokasi Kecamatan Ra’as, Pragaan, Bluto, Saronggi, Talango, Gili Genteng dan Dungkek. Produksinya sekitar 3.224,70 ton. Sementara musim produksi sepanjang tahun.

Luas areal per populasi 5.870 ha, yang sudah dikelola baru 50 persennya. Pemasaran rumput saat ini dalam dan luar negeri. Buktinya, salah satu pengusaha lokal rumput laut di Sumenep bakal kelabakan melayani permintaan pasar luar negeri. Pasalnya, kebutuhan rumput laut di pasaran internasional cukup tinggi. Sementara hasil produksi lokal minim.

Hal itu disampaikan Helmy Said, pengusaha rumput laut asal Desa Pakandangan, Kecamatan Bluto. Menurut Helmy, kebutuhan rumput laut di pasaran internasional cukup tinggi. "Saking tingginya, kadang kita kelabakan sendiri," ujarnya kepada koran ini.

Seperti diberitakan, berdasarkan hasil kunjungannya di berbagai wilayah di Tiongkok (RRC), sejumlah pabrik di Hongkong, Xiamen, Fouzhou, dan Qiangthoung, kebutuhan rumput laut bisa mencapai 2.000 ton per bulan. Tingginya permintaan akibat meningkatnya kebutuhan bahan baku rumput di sejumlah pabrik di beberapa wilayah tersebut.

"Dari hasil penjajakan saya selama kurang lebih 2 tahun di beberapa wilayah di Tiongkok, kebutuhannya memang luar biasa. Satu pabrik bisa membutuhkan 700 ton per bulan," ungkap Helmy.

Sayangnya, sambung pria lajang ini, produksi rumput laut lokal tidak mampu mengkaver kebutuhan pasaran internasional. Sebab, hasil produksinya terbatas. "Kalau diakumulasi mungkin bisa mencapai 2.000 ton. Tapi, kebanyakan kan sudah ada pasar tersendiri. Sehingga, pasar internasional seperti yang kita jajaki masih kurang stok," jelasnya. (zid)

Sumber: Jawa Pos, Rabu, 10 Jan 2007